TTips Memulai Investasi Saham Pemula
finance

Pemula Lebih Baik Fokus ke Saham Blue Chip Dibanding Saham Gorengan? Ini Jawabannya

Pemula sebaiknya fokus ke saham blue chip karena risikonya lebih terkontrol. Simak perbandingan lengkap dengan saham gorengan di sini.

R

22 Maret 2026
Pemula Lebih Baik Fokus ke Saham Blue Chip Dibanding Saham Gorengan? Ini Jawabannya

Pertanyaan ini sering banget saya dengar dari teman-teman di Pontianak yang baru mulai belajar saham. Apakah pemula lebih baik fokus ke saham blue chip dibanding saham gorengan? Jawaban singkatnya: ya, sangat disarankan. Tapi kenapa? Dan apa bedanya sampai bikin banyak orang salah langkah?

Saham blue chip itu seperti saham perusahaan besar, stabil, dan sudah terbukti kinerjanya. Contohnya BBCA (Bank BCA), TLKM (Telkom Indonesia), atau ASII (Astra International). Sementara saham gorengan adalah saham perusahaan kecil dengan harga murah yang harganya bisa naik-turun drastis dalam waktu singkat. Buat pemula, pilihan antara dua jenis saham ini bisa menentukan untung-rugi besar di awal perjalanan investasi.

Kenapa Saham Blue Chip Lebih Cocok untuk Pemula?

Alasan utamanya adalah stabilitas dan transparansi. Saham blue chip biasanya berasal dari perusahaan yang sudah mapan, punya laporan keuangan rutin, dan diawasi ketat oleh regulator. Buat pemula yang masih belajar membaca grafik dan laporan keuangan, ini seperti punya “guru” yang jelas Detail teknisnya saya rapikan di tepat membeli.

Coba bayangkan: Anda beli saham BBCA di harga Rp9.000 per lembar. Dalam sebulan, harganya mungkin naik-turun Rp100–Rp200. Itu wajar. Tapi kalau Anda beli saham gorengan dengan harga Rp50, bisa saja besoknya turun jadi Rp20 atau naik jadi Rp100 dalam seminggu. Fluktuasi ekstrem seperti itu bikin pemula panik dan sering salah ambil keputusan.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa saham-saham dalam indeks LQ45 (yang mayoritas blue chip) memiliki volatilitas rata-rata lebih rendah dibanding saham-saham kecil di indeks PEFINDO25. Volatilitas tahunan LQ45 biasanya di kisaran 15-25%, sementara saham gorengan bisa mencapai 50-100% lebih.

Selain itu, saham blue chip juga membagikan dividen secara rutin. BBCA misalnya, rutin bagi dividen setiap tahun dengan yield sekitar 2-3%. Meski kecil, ini jadi “bonus” yang menenangkan bagi pemula. Kalau harga saham sedang turun, setidaknya Anda masih dapat dividen. Saham gorengan? Jarang sekali yang bagi dividen.

Bagaimana Cara Memilih Saham Blue Chip yang Tepat?

Nah, ini bagian yang sering bikin bingung. “Blue chip” itu istilah umum, tapi tidak semua saham besar cocok untuk pemula. Saya biasanya kasih panduan sederhana ke teman-teman di komunitas investasi Pontianak.

Pertama, cek kapitalisasi pasar. Saham blue chip biasanya punya kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Anda bisa lihat di aplikasi sekuritas atau website BEI. Semakin besar kapitalisasinya, biasanya semakin stabil.

Kedua, lihat riwayat dividen. Pilih saham yang rutin bagi dividen minimal 5 tahun terakhir. Ini tanda perusahaan punya arus kas sehat. Contoh konkret: UNVR (Unilever Indonesia) rutin bagi dividen sejak IPO tahun 1982. Meski sekarang kinerjanya sedang turun, rekam jejak dividennya tetap bagus.

Ketiga, perhatikan sektor usahanya. Hindari sektor yang terlalu spekulatif seperti tambang batu bara atau properti yang sangat tergantung siklus ekonomi. Lebih baik pilih sektor konsumsi (seperti ICBP, INDF) atau perbankan (seperti BBRI, BMRI) yang kebutuhannya selalu ada.

Keempat, gunakan fitur screening di aplikasi sekuritas. Banyak aplikasi seperti Stockbit atau RTI Business punya fitur untuk menyaring saham berdasarkan kapitalisasi pasar, PER, PBV, dan rasio keuangan lainnya. Saya pribadi sering pakai ini untuk membandingkan saham blue chip mana yang sedang murah.

Apa Risiko Tetap Bermain Saham Gorengan?

Saya tidak bilang saham gorengan itu haram atau selalu rugi. Tapi risikonya jauh lebih besar, terutama untuk pemula. Mari kita bedah.

Risiko pertama: likuiditas palsu. Saham gorengan sering dipermainkan oleh bandar. Harganya bisa naik karena “gorengan” (manipulasi) bukan karena kinerja perusahaan. Begitu bandar keluar, harganya bisa anjlok 50% dalam sehari. Contoh nyata: saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) sempat naik 300% dalam sebulan di 2021, lalu turun 70% dalam dua bulan berikutnya. Pemula yang beli di puncak pasti rugi besar.

Risiko kedua: informasi minim. Perusahaan kecil sering tidak transparan. Laporan keuangannya bisa telat, bahkan ada yang tidak diaudit. Anda tidak tahu apakah perusahaan itu benar-benar punya bisnis atau cuma “kerangka”. Ini beda dengan blue chip yang laporan keuangannya bisa diakses publik dengan mudah.

Risiko ketiga: psikologis. Fluktuasi harga yang ekstrem bikin emosi tidak stabil. Pemula yang lihat harga sahamnya turun 20% dalam sehari cenderung panik jual (cut loss) di harga terendah. Padahal kalau sabar, mungkin harganya naik lagi. Tapi karena tidak punya pengalaman, keputusan jadi emosional.

Risiko keempat: biaya transaksi lebih tinggi. Saham gorengan dengan harga Rp50–Rp100 membutuhkan pembelian dalam jumlah lot besar. Biaya komisi broker tetap sama per transaksi, tapi karena nilai transaksinya kecil, persentase biayanya jadi lebih besar. Ujungnya, Anda rugi di biaya sebelum untung.

Berapa Biaya yang Harus Disiapkan untuk Mulai?

Banyak pemula berpikir butuh modal besar untuk beli saham blue chip. Padahal tidak selalu. Satu lot saham (100 lembar) BBCA dengan harga Rp9.000 berarti modal Rp900.000. Itu masih terjangkau untuk pemula dengan gaji UMR.

Tapi kalau mau lebih aman, siapkan modal minimal Rp1–2 juta. Dengan modal segitu, Anda bisa beli 2–3 lot saham blue chip berbeda. Misalnya: 1 lot BBRI (sekitar Rp400.000), 1 lot TLKM (sekitar Rp300.000), dan 1 lot ASII (sekitar Rp500.000). Total sekitar Rp1,2 juta.

Biaya tambahan yang perlu diingat:

  • Komisi broker: biasanya 0,15-0,25% dari nilai transaksi untuk beli, dan 0,25-0,35% untuk jual. Untuk transaksi Rp1 juta, biaya sekitar Rp1.500–Rp3.500.
  • Pajak: 0,1% untuk dividen (final) dan 0,1% untuk penjualan saham.
  • Biaya penyimpanan (kustodi): biasanya gratis untuk 6 bulan pertama, lalu Rp10.000–Rp30.000 per bulan tergantung sekuritas Latar belakangnya ada di gaya rambut pria yang populer.

Saya sarankan pilih sekuritas dengan biaya komisi rendah, seperti Mirae Asset atau Indo Premier Sekuritas yang komisinya 0,15% untuk beli dan 0,25% untuk jual. Jangan tergiur sekuritas yang kasih bonus referral tapi komisinya tinggi.

Apakah Ada Waktu yang Tepat untuk Mulai?

Waktu terbaik untuk mulai investasi saham blue chip adalah saat harga sedang turun atau stabil. Jangan beli saat harga sedang naik tinggi karena Anda bisa terjebak di puncak. Prinsipnya: beli saat harga murah, jual saat harga mahal.

Tapi untuk pemula, lebih baik pakai strategi investasi rutin (dollar cost averaging). Misalnya, setiap bulan beli saham blue chip senilai Rp500.000, terlepas dari harga sedang naik atau turun. Dengan cara ini, Anda tidak perlu pusing memprediksi waktu yang tepat.

Contoh: Saya mulai investasi BBCA di tahun 2020 saat harga Rp6.000. Saya beli rutin setiap bulan Rp500.000. Ketika harga naik ke Rp9.000 di 2023, nilai investasi saya sudah naik 50% plus dapat dividen. Kalau saya coba timing market, mungkin malah beli di harga tinggi.

Data historis menunjukkan bahwa indeks LQ45 (kumpulan saham blue chip) rata-rata naik 10-15% per tahun dalam 10 tahun terakhir. Meski ada tahun-tahun turun seperti 2020 (pandemi) dan 2022 (kenaikan suku bunga), dalam jangka panjang trennya tetap naik.

Jadi, daripada menunggu waktu “sempurna”, lebih baik mulai sekarang dengan modal kecil dan konsisten. Waktu akan menjadi teman terbaik Anda kalau Anda sabar.

Untuk informasi lebih lanjut tentang saham blue chip, Anda bisa baca artikel di Wikipedia tentang Indeks LQ45 yang menjelaskan kriteria saham-saham unggulan di Bursa Efek Indonesia Variasi kasusnya saya kupas di tips menjaga privasi di dunia maya.

Pemula yang fokus ke saham blue chip punya peluang lebih besar untuk belajar tanpa stres berlebihan. Risikonya lebih terkontrol, informasinya mudah didapat, dan hasilnya lebih stabil dalam jangka panjang. Saham gorengan mungkin menggiurkan dengan keuntungan cepat, tapi buat yang baru belajar, mending jauhi dulu. Fokus aja ke blue chip, pelan-pelan tapi pasti.

Bacaan lanjutan: Kapan waktu yang tepat membeli saham agar tidak asal ikut tr

Sumber lanjutan: sumber resmi